Minggu, 22 Februari 2026

Bab 7 Gaya Hidup Pergaulan Muda mudi Masa Kini (Materi ajar PAK kelas 9)

Bab 7 Gaya Hidup Pergaulan Muda mudi Masa Kini (Materi ajar PAK kelas 9)

GAYA HIDUP PERGAULAN MUDA-MUDI MASA KINI 

Bahan Alkitab: Filipi 1:9-10; 2 Timotius 2:22 

 

Capaian Pembelajaran

Memahami prinsip rendah hati, penguasaan diri, peduli sesama, dan makna persahabatan dalam kehidupan sehari-hari. 

Tujuan Pembelajaran 
1. Memahami pengertian pacaran dalam konteks masa kini.
2. Menganalisis teks Alkitab yang berkaitan dengan prinsip-prinsip pacaran yang sehat.
3. Mengevaluasi sikap rendah hati, penguasaan diri, dan kepedulian dalam hubungan pacaran pada masa kini. 

 

PENGANTAR

 Apakah kamu pernah naksir seseorang? Apakah kamu ingat kapan pertama kali kamu naksir seseorang? Apakah kamu sempat berpacaran dengan orang yang kamu taksir tersebut?

Masa remaja adalah fase awal di mana manusia mulai bertumbuh menjadi dewasa. Fase awal ini ditandai dengan mulai berfungsinya hormon testosterone pada laki-laki dan hormon progesterone dan esterogen pada perempuan. Hormon-hormon yang aktif di dalam tubuh ini berpengaruh pada tubuh, seperti muncul jakun pada laki-laki dan payudara pada perempuan. Beberapa bagian tubuh, seperti kemaluan dan ketiak, mulai ditumbuhi rambut. Remaja laki-laki akan mengalami mimpi basah, remaja perempuan akan mengalami menstruasi. Orang yang sudah mengalami tanda-tanda ini berarti hormon seksualnya sudah aktif. Hormon reproduksi yang sudah aktif mengakibatkan munculnya rasa tertarik secara romantis dan seksual kepada orang lain. Perempuan biasanya mengalami tanda-tanda ini pada usia 10-14 tahun, sedangkan laki-laki pada usia 11-14 tahun. Ketika mengalami fase ini, maka remaja biasanya akan merasakan "cinta monyet". Banyak yang memilih untuk memiliki hubungan eksklusif antara dua orang yang biasa disebut dengan pacaran. Sering kali pacaran dianggap sebagai hal yang kontroversial atau topik yang tabu untuk dibicarakan. Sebagai orang beriman pun sering kali bertanya, "Apakah orang Kristen boleh berpacaran?"

 Apa yang Alkitab katakan mengenai hubungan eksklusif pada masa remaja ini? Apa saja prinsip-prinsip kekristenan yang perlu dipegang agar dapat menjalani hubungan eksklusif yang sehat?


KONTEKS HUBUNGAN EKSKLUSIF MASA KINI 

Ada satu ungkapan yang sering kita lihat di beberapa akun sosial media yang cukup terkenal: "Kalau kamu mampu makan di restoran sendiri dan nonton di bioskop sendiri, berarti tidak ada hal lagi dalam hidup ini yang perlu kamu takuti". Pada saat ini, ada banyak candaan, bahkan ejekan yang menyinggung para "jomblo" (orang yang tidak punya pacar). Beberapa tahun yang lalu, muncul istilah "jones" atau jomblo ngenes untuk mengejek orang yang tidak punya pasangan seolah hidup sempurna hanya jika memiliki pasangan. Tren membawa pasangan ke berbagai acara keluarga dijadikan peluang bisnis oleh beberapa oknum untuk membuka jasa sewa pacar. Tidak jarang jasa sewa pacar seperti ini berujung pada prostitusi online 

Memiliki pasangan sudah menjadi standar ideal dan nilai yang dikejar oleh orang. orang masa kini. Bahkan, sejak masih usia sekolah banyak remaja yang merasa malu kalau belum punya pacar. Pacaran seperti menjadi budaya yang terinternalisasi di dalam diri remaja masa kini. Dampak dari fenomena ini tentu sangat signifikan. Makna nilai-nilai kasih setia, kasih sayang, dan cinta direduksi sehingga hanya sebatas pemuasan nafsu belaka, 

Hal yang cukup memprihatinkan adalah bahwa banyak anak remaja yang memutuskan untuk berpacaran karena merasa kesepian. Dengan menjalin hubungan pacaran dengan orang lain, ada harapan bahwa rasa sepi dan kesendirian itu akan hilang dengan sendirinya, 

Kalau saat ini kamu sedang dalam relasi pacaran, ada satu pertanyaan yang perlu kamu jawab. Mengapa kamu memutuskan untuk berpacaran pada usia sekarang? 

Pada tahun 2019, ada sebuah film Indonesia berjudul "Dua Garis Biru" yang cukup menyita perhatian. Film yang bertemakan pergaulan bebas remaja pada masa kini itu berhasil meraih bebe rapa penghargaan, antara lain Skenario Asli Film Terbaik di Festival Film Indonesia 2019 dan Aktor Terbaik di Indonesia Movie Award 2019. Film "Dua Garis Biru" bercerita tentang sepasang remaja SMA bernama Dara dan Bima yang berpacaran. 

Awalnya, mereka mendapatkan dukungan dari teman-teman hingga keluarga masing-masing. Sampai pada suatu hari, Dara dan Bima terlibat dalam hubungan seksual, Dara dikeluarkan dari sekolah lantaran ia hamil akibat dari perbuatannya dengan Bima. Keluarga 

Dara pun akhirnya mengusir Dara untuk tinggal di keluarga Bima yang terletak di perkam-pungan kumuh. Orang tua Bima menyarankan mereka untuk menikah. Masalah kembali muncul ketika Dara mengetahui rencana orang tuanya untuk mengambil anaknya dan menyerahkan kepada pamannya. Dara juga harus berpisah dengan Bima karena ia harus menjalani pendidikan di luar negeri. 

Dari film itu kita dapat memetik pelajaran bahwa walaupun hormon reproduksi kita pada masa remaja sedang bertumbuh dan membuat kita menggebu-gebu dalam meng-ekspresikan rasa cinta kepada orang lain, kita perlu memiliki pengendalian dan kontrol diri menurut nilai-nilai kekristenan dan batasan nilai dan norma yang berlaku di masya-rakat. Ketika kita hanyut dalam relasi asmara yang menggebu-gebu dan melanggar batasan nilai dan norma, kita harus siap menanggung risiko dan akibat yang ditimbulkan. Kita tidak hanya menyusahkan diri sendiri dan pasangan. Banyak pihak yang akan terdampak akibat perbuatan kita, yaitu larut dalam hubungan yang tidak bertanggung jawab. Sebagai orang Kristen, apakah kita diperbolehkan untuk berpacaran? 


Aktivitas 1 

Tuliskan pendapatmu atas fenomena kehidupan pacaran anak remaja di masa kini! 
Berdasarkan pengamatan saya, alasan anak remaja masa kini memilih untuk berpacaran adalah ............. …………………………………………………………………………………………………..................

 

APA KATA ALKITAB TENTANG PACARAN? 

 Apabila kita menelusuri seluruh isi Alkitab memang kita tidak akan menemukan kata "pacaran" di ayat mana pun. Kalaupun kita menganggap pacaran sebagai tahap pertama untuk saling mengenal sebelum naik ke jenjang perkawinan, konsep sosial seperti itu pun tidak ada di Alkitab. Kalau begitu, apakah berarti Alkitab tidak memuat prinsip apa pun yang berkaitan dengan pacaran? Tentu tidak demikian. Di dalam relasi interpersonal yang eksklusif seperti pacaran tentu ada batasan serta nilai agama yang menjadi rambu untuk menjaga kualitas hubungan tersebut supaya tidak salah arah. Hal-hal apa sajakah yang tertulis di dalam Alkitab yang dapat kita jadikan sebagai nilai dan batasan dalam menjalin hubungan yang eksklusif? 

 

1.    Kita harus memiliki pengertian dan pengetahuan yang benar untuk dapat memilih yang baik (Flp. 1:9-10) 

Sebagai manusia yang hidup pada zaman modern tentu kita dapat melihat hal-hal yang dapat menjerumuskan kita saat berpacaran. Hal-hal buruk dan berbahaya di dalam membangun relasi eksklusif tersebut hendaklah menjadi bahan pertimbangan bagi kita untuk memilih apa yang baik supaya kita tetap menjaga kekudusan kita. 

2.      Kita dinasihati untuk tidak mengikuti hawa nafsu orang muda (2Tim. 2:22) 

Rasul Paulus menggunakan kata epithumia untuk menggambarkan hawa nafsu orang muda. Kata epithumia berarti hasrat untuk melakukan hal-hal terlarang atau hawa nafsu berahi. Hubungan seksual yang terjadi dalam hubungan pacaran jelas sekali dilakukan dalam rangka memenuhi hawa nafsu orang muda seperti yang dituliskan oleh Rasul Paulus. Di dalam hubungan dengan orang lain Rasul Paulus mengingatkan agar kita memakai prinsip kasih agape atau kasih tanpa syarat yang tidak melibatkan nafsu sesaat. 


3.      Menyadari bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus (1Kor. 6:9) 

Sebagai anak Tuhan, kita harus sadar penuh bahwa Roh Kudus berdiam di dalam tubuh kita. Itu berarti, kita hendaknya menjauhkan diri dari percabulan, pun ketika sedang menjalin relasi eksklusif dengan orang lain. 


4.      Kita dipanggil untuk mempersembahkan tubuh kita bagi Allah (Rm. 12:1) 

Ibadah kita yang sejati adalah bagaimana kita mempersembahkan tubuh kita kepada Allah sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan. Hendaknya kita mengingat hal ini saat kita sedang berada dalam relasi pacaran dengan orang lain. 

5.      Orang Kristen dipanggil untuk tidak menjadi serupa dengan dunia (Rm. 12:2) 

Kita memang hidup pada era di mana orang bebas mau melakukan hubungan intim saat masih remaja atau sebelum menikah. Namun, apakah itu berarti, kita mengikutinya? Rasul Paulus mengajak setiap orang percaya untuk berubah dengan pembaharuan budi sehingga dapat membedakan mana yang baik, mana yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna. 


6.      Ada saat yang tepat untuk membangkitkan cinta (Kid. 2:7) 

Penulis kitab Kidung Agung mengingatkan hingga dua kali melalui pesan yang sama: "Jangan kamu membangkitkan dan menyalakan cinta sebelum diingininya" (Kid. 2:7; 3:5). Dari ayat ini kita belajar bahwa akan ada saat yang tepat bagi kita untuk menyalakan cinta. Apakah pacaran di masa remaja adalah masa yang tepat untuk berhubungan seksual? 


7.      Setiap dari kita akan memberikan pertanggungjawaban kepada Allah (Rm. 14:12) 

Ketika kita memutuskan untuk mengikuti hawa nafsu berahi saat menjalin hubungan pacaran dengan orang lain, siapkah kita memberikan pertanggungjawaban di hadapan Allah? Apakah kita sudah mengukur kemampuan kita untuk menerima konsekuensi dari segala tindakan kita?


8.      Kita dipanggil oleh Allah untuk memuliakan Dia dengan tubuh kita (1Kor. 6:20) 

Sebagai orang percaya, kita telah ditebus oleh darah Kristus dan harganya sangat mahal. Apakah kita akan menyia-nyiakan penebusan Kristus hanya untuk terlibat dalam hubungan yang bertujuan untuk memenuhi hawa nafsu berahi saja? Rasul Paulus mengingatkan kita untuk memuliakan Allah dengan tubuh kita. 

 

Aktivitas 2 

Kamu sudah membaca beberapa ayat yang merupakan prinsip kunci bagi kita orang Kristen dalam membangun hubungan dengan orang lain khsusunya pacaran. Setelah membaca ayat-ayat Alkitab tersebut, menurutmu, apa itu pacaran menurut iman Kristen?  


MEMBANGUN RELASI YANG SEHAT DENGAN SESAMA 

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus mengingatkan jemaat bahwa walaupun segala sesuatu diperbolehkan, tidak semuanya bermanfaat. Rasul Paulus men-contohkan dirinya yang tidak mau diperhamba oleh apa pun (1Kor. 6:12). Dalam relasi pacaran hari ini, ada satu kata yang cukup terkenal di kalangan muda-mudi, yaitu bucin atau budak cinta. Singkatnya, bucin adalah istilah yang disematkan kepada mereka yang rela melakukan apa pun demi menyenangkan pacar. Demi mempertahankan cinta atau atas nama cinta, seseorang rela menyerahkan diri untuk diperlakukan semau pasangannya. Kerap terjadi kehamilan yang tidak diinginkan dan penularan penyakit menular seksual di kalangan remaja akibat tren ini. Apakah hubungan yang merusak dan membuat kita diper-hamba orang lain merupakan hubungan yang sehat? 

Relasi yang sehat adalah relasi yang membangun kedua pihak yang terlibat di dalam-nya. Oleh karena itu, dibutuhkan rasa kepedulian kepada sesama agar kita dapat memba-ngun hubungan yang baik dan sehat. Selain itu, seperti yang Rasul Paulus nasihatkan. kita harus mengenakan kasih sebagai pengikat yang menyatukan dan menyempurnakan (Kol. 3:14). Kata kasih yang digunakan adalah agape, yaitu kasih Allah yang mau berkorban dan tidak mengobarkan hawa nafsu. Oleh karena itu, dalam relasi yang sehat dibutuhkan penguasaan diri supaya kita tidak terjebak mengikuti hawa nafsu orang muda. 

Sebagai remaja Kristen, kita juga diajak merendahkan hati, mengakui bahwa belum saatnya bagi kita untuk membangkitkan dan menyalakan cinta. Cinta dan relasi yang intim dengan sesama manusia merupakan anugerah Tuhan. Tuhan yang telah menciptakan dan menjadikan itu nyata tertanam dalam diri kita, baik secara biologis maupun psikologis.

Akan tetapi, Tuhan sedang menguji hati dan iman kita dengan hasrat yang telah la karuniakan kepada kita, apakah kita akan tetap mempersembahkan tubuh kita bagi-Nya dalam kasih dan kerendahan hati? Cara kita mempersembahkan tubuh kita bagi Allah adalah dengan menerapkan penguasaan diri ketika menjalin relasi dengan sesama. Saat menjalin hubungan dengan sesama, kita perlu mengedepankan kasih dan kepedulian agar tercipta hubungan relasi yang sehat dengan sesama manusia sesuai dengan kehendak Tuhan. 

 

Aktivitas 3 

Setelah memahami prinsip membangun relasi yang sehat dengan sesama, tuliskanlah apa yang menjadi komitmen pribadimu saat menjalin hubungan dengan orang lain pada masa remaja ini! 

Komitmen pribadi saya dalam membangun relasi dengan orang lain ..................................................... …………………………………………..................................................................................................

 

RANGKUMAN 

Sebagai anak-anak Tuhan, kita dipanggil untuk mengasihi sesama dalam kasih yang tidak mengobarkan hawa nafsu, melainkan dengan kasih Allah yang rela mengorbankan diri-Nya bagi banyak orang (agape). Kita menyadari bahwa hasrat adalah pemberian Tuhan dan masa remaja adalah saat ketika hormon reproduksi manusia mulai aktif. Meskipun demikian, Alkitab berpesan dengan jelas kepada setiap orang percaya bahwa ada saatnya manusia dapat menikmati gairah cinta sebab itu jangan pernah membangkitkan dan menyalakan cinta sebelum waktunya (Kid. 2:7; 3:5). Sebagai orang percaya, kita juga dipanggil untuk memilih yang baik dan mempersembahkan tubuh kita dengan keadaan yang suci dan berkenan kepada Allah.

 


Sumber: Buku Paket Pendidikan Agama Kristen Kelas 9 (Penerbit BPK Gunung Mulia)