Bab 7 Gaya Hidup Pergaulan Muda mudi Masa Kini (Materi ajar PAK kelas
9)
GAYA HIDUP PERGAULAN MUDA-MUDI MASA KINI
Bahan Alkitab: Filipi 1:9-10; 2 Timotius 2:22
Capaian Pembelajaran
Memahami prinsip rendah hati, penguasaan diri, peduli sesama, dan makna
persahabatan dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan Pembelajaran
1. Memahami pengertian pacaran dalam konteks masa kini.
2. Menganalisis teks Alkitab yang berkaitan dengan prinsip-prinsip pacaran
yang sehat.
3. Mengevaluasi sikap rendah hati, penguasaan diri, dan kepedulian dalam
hubungan pacaran pada masa kini.
PENGANTAR
Apakah kamu pernah naksir seseorang?
Apakah kamu ingat kapan pertama kali kamu naksir seseorang? Apakah kamu sempat
berpacaran dengan orang yang kamu taksir tersebut?
Masa remaja adalah fase awal di mana
manusia mulai bertumbuh menjadi dewasa. Fase awal ini ditandai dengan mulai
berfungsinya hormon testosterone pada laki-laki dan hormon progesterone dan
esterogen pada perempuan. Hormon-hormon yang aktif di dalam tubuh ini
berpengaruh pada tubuh, seperti muncul jakun pada laki-laki dan payudara pada
perempuan. Beberapa bagian tubuh, seperti kemaluan dan ketiak, mulai ditumbuhi
rambut. Remaja laki-laki akan mengalami mimpi basah, remaja perempuan akan
mengalami menstruasi. Orang yang sudah mengalami tanda-tanda ini berarti hormon
seksualnya sudah aktif. Hormon reproduksi yang sudah aktif mengakibatkan
munculnya rasa tertarik secara romantis dan seksual kepada orang lain.
Perempuan biasanya mengalami tanda-tanda ini pada usia 10-14 tahun, sedangkan
laki-laki pada usia 11-14 tahun. Ketika mengalami fase ini, maka remaja
biasanya akan merasakan "cinta monyet". Banyak yang memilih untuk
memiliki hubungan eksklusif antara dua orang yang biasa disebut dengan pacaran.
Sering kali pacaran dianggap sebagai hal yang kontroversial atau topik yang tabu
untuk dibicarakan. Sebagai orang beriman pun sering kali bertanya, "Apakah
orang Kristen boleh berpacaran?"
Apa yang Alkitab katakan mengenai
hubungan eksklusif pada masa remaja ini? Apa saja prinsip-prinsip kekristenan
yang perlu dipegang agar dapat menjalani hubungan eksklusif yang sehat?
KONTEKS HUBUNGAN EKSKLUSIF MASA KINI
Ada satu ungkapan yang sering kita lihat di beberapa akun sosial media yang
cukup terkenal: "Kalau kamu mampu makan di restoran sendiri dan nonton di
bioskop sendiri, berarti tidak ada hal lagi dalam hidup ini yang perlu kamu
takuti". Pada saat ini, ada banyak candaan, bahkan ejekan yang menyinggung
para "jomblo" (orang yang tidak punya pacar). Beberapa tahun yang lalu,
muncul istilah "jones" atau jomblo ngenes untuk mengejek orang yang tidak
punya pasangan seolah hidup sempurna hanya jika memiliki pasangan. Tren
membawa pasangan ke berbagai acara keluarga dijadikan peluang bisnis oleh
beberapa oknum untuk membuka jasa sewa pacar. Tidak jarang jasa sewa pacar
seperti ini berujung pada prostitusi online
Memiliki pasangan sudah menjadi standar ideal dan nilai yang dikejar oleh
orang. orang masa kini. Bahkan, sejak masih usia sekolah banyak remaja yang
merasa malu kalau belum punya pacar. Pacaran seperti menjadi budaya yang
terinternalisasi di dalam diri remaja masa kini. Dampak dari fenomena ini
tentu sangat signifikan. Makna nilai-nilai kasih setia, kasih sayang, dan
cinta direduksi sehingga hanya sebatas pemuasan nafsu belaka,
Hal yang cukup memprihatinkan adalah bahwa banyak anak remaja yang
memutuskan untuk berpacaran karena merasa kesepian. Dengan menjalin hubungan
pacaran dengan orang lain, ada harapan bahwa rasa sepi dan kesendirian itu
akan hilang dengan sendirinya,
Kalau saat ini kamu sedang dalam relasi pacaran, ada satu pertanyaan yang
perlu kamu jawab. Mengapa kamu memutuskan untuk berpacaran pada usia
sekarang?
Pada tahun 2019, ada sebuah film Indonesia berjudul "Dua Garis Biru" yang
cukup menyita perhatian. Film yang bertemakan pergaulan bebas remaja pada
masa kini itu berhasil meraih bebe rapa penghargaan, antara lain Skenario
Asli Film Terbaik di Festival Film Indonesia 2019 dan Aktor Terbaik di
Indonesia Movie Award 2019. Film "Dua Garis Biru" bercerita tentang sepasang
remaja SMA bernama Dara dan Bima yang berpacaran.
Awalnya, mereka mendapatkan dukungan dari teman-teman hingga keluarga
masing-masing. Sampai pada suatu hari, Dara dan Bima terlibat dalam hubungan
seksual, Dara dikeluarkan dari sekolah lantaran ia hamil akibat dari
perbuatannya dengan Bima. Keluarga
Dara pun akhirnya mengusir Dara untuk tinggal di keluarga Bima yang
terletak di perkam-pungan kumuh. Orang tua Bima menyarankan mereka untuk
menikah. Masalah kembali muncul ketika Dara mengetahui rencana orang tuanya
untuk mengambil anaknya dan menyerahkan kepada pamannya. Dara juga harus
berpisah dengan Bima karena ia harus menjalani pendidikan di luar
negeri.
Dari film itu kita dapat memetik pelajaran bahwa walaupun hormon reproduksi
kita pada masa remaja sedang bertumbuh dan membuat kita menggebu-gebu dalam
meng-ekspresikan rasa cinta kepada orang lain, kita perlu memiliki
pengendalian dan kontrol diri menurut nilai-nilai kekristenan dan batasan
nilai dan norma yang berlaku di masya-rakat. Ketika kita hanyut dalam relasi
asmara yang menggebu-gebu dan melanggar batasan nilai dan norma, kita harus
siap menanggung risiko dan akibat yang ditimbulkan. Kita tidak hanya
menyusahkan diri sendiri dan pasangan. Banyak pihak yang akan terdampak
akibat perbuatan kita, yaitu larut dalam hubungan yang tidak bertanggung
jawab. Sebagai orang Kristen, apakah kita diperbolehkan untuk
berpacaran?
Aktivitas 1
Tuliskan pendapatmu atas fenomena kehidupan pacaran anak remaja di masa
kini!
Berdasarkan pengamatan saya, alasan anak remaja masa kini memilih untuk
berpacaran adalah ............. …………………………………………………………………………………………………..................
APA KATA ALKITAB TENTANG PACARAN?
Apabila kita menelusuri seluruh isi Alkitab memang kita tidak akan
menemukan kata "pacaran" di ayat mana pun. Kalaupun kita menganggap pacaran
sebagai tahap pertama untuk saling mengenal sebelum naik ke jenjang
perkawinan, konsep sosial seperti itu pun tidak ada di Alkitab. Kalau
begitu, apakah berarti Alkitab tidak memuat prinsip apa pun yang berkaitan
dengan pacaran? Tentu tidak demikian. Di dalam relasi interpersonal yang
eksklusif seperti pacaran tentu ada batasan serta nilai agama yang menjadi
rambu untuk menjaga kualitas hubungan tersebut supaya tidak salah arah.
Hal-hal apa sajakah yang tertulis di dalam Alkitab yang dapat kita jadikan
sebagai nilai dan batasan dalam menjalin hubungan yang
eksklusif?
1. Kita harus memiliki pengertian dan pengetahuan yang benar untuk dapat
memilih yang baik (Flp. 1:9-10)
Sebagai manusia yang hidup pada zaman modern tentu kita dapat melihat
hal-hal yang dapat menjerumuskan kita saat berpacaran. Hal-hal buruk dan
berbahaya di dalam membangun relasi eksklusif tersebut hendaklah menjadi
bahan pertimbangan bagi kita untuk memilih apa yang baik supaya kita tetap
menjaga kekudusan kita.
2.
Kita dinasihati untuk tidak mengikuti hawa nafsu orang muda (2Tim.
2:22)
Rasul Paulus menggunakan kata epithumia untuk menggambarkan hawa nafsu
orang muda. Kata epithumia berarti hasrat untuk melakukan hal-hal terlarang
atau hawa nafsu berahi. Hubungan seksual yang terjadi dalam hubungan pacaran
jelas sekali dilakukan dalam rangka memenuhi hawa nafsu orang muda seperti
yang dituliskan oleh Rasul Paulus. Di dalam hubungan dengan orang lain Rasul
Paulus mengingatkan agar kita memakai prinsip kasih agape atau kasih tanpa
syarat yang tidak melibatkan nafsu sesaat.
3.
Menyadari bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus (1Kor.
6:9)
Sebagai anak Tuhan, kita harus sadar penuh bahwa Roh Kudus berdiam di dalam
tubuh kita. Itu berarti, kita hendaknya menjauhkan diri dari percabulan, pun
ketika sedang menjalin relasi eksklusif dengan orang lain.
4.
Kita dipanggil untuk mempersembahkan tubuh kita bagi Allah (Rm.
12:1)
Ibadah kita yang sejati adalah bagaimana kita mempersembahkan tubuh kita
kepada Allah sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan. Hendaknya
kita mengingat hal ini saat kita sedang berada dalam relasi pacaran dengan
orang lain.
5.
Orang Kristen dipanggil untuk tidak menjadi serupa dengan dunia (Rm.
12:2)
Kita memang hidup pada era di mana orang bebas mau melakukan hubungan intim
saat masih remaja atau sebelum menikah. Namun, apakah itu berarti, kita
mengikutinya? Rasul Paulus mengajak setiap orang percaya untuk berubah
dengan pembaharuan budi sehingga dapat membedakan mana yang baik, mana yang
berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.
6.
Ada saat yang tepat untuk membangkitkan cinta (Kid. 2:7)
Penulis kitab Kidung Agung mengingatkan hingga dua kali melalui pesan yang
sama: "Jangan kamu membangkitkan dan menyalakan cinta sebelum diingininya"
(Kid. 2:7; 3:5). Dari ayat ini kita belajar bahwa akan ada saat yang tepat
bagi kita untuk menyalakan cinta. Apakah pacaran di masa remaja adalah masa
yang tepat untuk berhubungan seksual?
7.
Setiap dari kita akan memberikan pertanggungjawaban kepada Allah (Rm.
14:12)
Ketika kita memutuskan untuk mengikuti hawa nafsu berahi saat menjalin
hubungan pacaran dengan orang lain, siapkah kita memberikan
pertanggungjawaban di hadapan Allah? Apakah kita sudah mengukur kemampuan
kita untuk menerima konsekuensi dari segala tindakan kita?
8.
Kita dipanggil oleh Allah untuk memuliakan Dia dengan tubuh kita (1Kor.
6:20)
Sebagai orang percaya, kita telah ditebus oleh darah Kristus dan harganya
sangat mahal. Apakah kita akan menyia-nyiakan penebusan Kristus hanya untuk
terlibat dalam hubungan yang bertujuan untuk memenuhi hawa nafsu berahi
saja? Rasul Paulus mengingatkan kita untuk memuliakan Allah dengan tubuh
kita.
Aktivitas 2
Kamu sudah membaca beberapa ayat yang merupakan prinsip kunci bagi kita
orang Kristen dalam membangun hubungan dengan orang lain khsusunya pacaran.
Setelah membaca ayat-ayat Alkitab tersebut, menurutmu, apa itu pacaran
menurut iman Kristen?
MEMBANGUN RELASI YANG SEHAT DENGAN SESAMA
Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus mengingatkan jemaat
bahwa walaupun segala sesuatu diperbolehkan, tidak semuanya bermanfaat.
Rasul Paulus men-contohkan dirinya yang tidak mau diperhamba oleh apa pun
(1Kor. 6:12). Dalam relasi pacaran hari ini, ada satu kata yang cukup
terkenal di kalangan muda-mudi, yaitu bucin atau budak cinta. Singkatnya,
bucin adalah istilah yang disematkan kepada mereka yang rela melakukan apa
pun demi menyenangkan pacar. Demi mempertahankan cinta atau atas nama cinta,
seseorang rela menyerahkan diri untuk diperlakukan semau pasangannya. Kerap
terjadi kehamilan yang tidak diinginkan dan penularan penyakit menular
seksual di kalangan remaja akibat tren ini. Apakah hubungan yang merusak dan
membuat kita diper-hamba orang lain merupakan hubungan yang
sehat?
Relasi yang sehat adalah relasi yang membangun kedua pihak yang terlibat di
dalam-nya. Oleh karena itu, dibutuhkan rasa kepedulian kepada sesama agar
kita dapat memba-ngun hubungan yang baik dan sehat. Selain itu, seperti yang
Rasul Paulus nasihatkan. kita harus mengenakan kasih sebagai pengikat yang
menyatukan dan menyempurnakan (Kol. 3:14). Kata kasih yang digunakan adalah
agape, yaitu kasih Allah yang mau berkorban dan tidak mengobarkan hawa
nafsu. Oleh karena itu, dalam relasi yang sehat dibutuhkan penguasaan diri
supaya kita tidak terjebak mengikuti hawa nafsu orang muda.
Sebagai remaja Kristen, kita juga diajak merendahkan hati, mengakui bahwa
belum saatnya bagi kita untuk membangkitkan dan menyalakan cinta. Cinta dan
relasi yang intim dengan sesama manusia merupakan anugerah Tuhan. Tuhan yang
telah menciptakan dan menjadikan itu nyata tertanam dalam diri kita, baik
secara biologis maupun psikologis.
Akan tetapi, Tuhan sedang menguji hati dan iman kita dengan hasrat yang
telah la karuniakan kepada kita, apakah kita akan tetap mempersembahkan
tubuh kita bagi-Nya dalam kasih dan kerendahan hati? Cara kita
mempersembahkan tubuh kita bagi Allah adalah dengan menerapkan penguasaan
diri ketika menjalin relasi dengan sesama. Saat menjalin hubungan dengan
sesama, kita perlu mengedepankan kasih dan kepedulian agar tercipta hubungan
relasi yang sehat dengan sesama manusia sesuai dengan kehendak
Tuhan.
Aktivitas 3
Setelah memahami prinsip membangun relasi yang sehat dengan sesama,
tuliskanlah apa yang menjadi komitmen pribadimu saat menjalin hubungan
dengan orang lain pada masa remaja ini!
Komitmen pribadi saya dalam membangun relasi dengan orang lain
.....................................................
…………………………………………..................................................................................................
RANGKUMAN
Sebagai anak-anak Tuhan, kita dipanggil untuk mengasihi sesama dalam kasih
yang tidak mengobarkan hawa nafsu, melainkan dengan kasih Allah yang rela
mengorbankan diri-Nya bagi banyak orang (agape). Kita menyadari bahwa hasrat
adalah pemberian Tuhan dan masa remaja adalah saat ketika hormon reproduksi
manusia mulai aktif. Meskipun demikian, Alkitab berpesan dengan jelas kepada
setiap orang percaya bahwa ada saatnya manusia dapat menikmati gairah cinta
sebab itu jangan pernah membangkitkan dan menyalakan cinta sebelum waktunya
(Kid. 2:7; 3:5). Sebagai orang percaya, kita juga dipanggil untuk memilih
yang baik dan mempersembahkan tubuh kita dengan keadaan yang suci dan
berkenan kepada Allah.
Sumber: Buku Paket Pendidikan Agama Kristen Kelas 9 (Penerbit BPK Gunung Mulia)