Bab 7 Penguasaan Diri Sebagai Wujud Iman Kepada Allah
PENGUASAAN DIRI SEBAGAI WUJUD IMAN KEPADA ALLAH
Bahan Alkitab:Amsal 18:13, Galatia 5:22-23, Efesus 4:29, 1Kor 9:25, 1Tim
6:11
Tujuan Pembelajaran: Memahami sikap menguasai diri sebagai salah
satu wujud nyata iman kepada Allah
A. PENGUASAAN DIRI DALAM PEMAHAMAN IMAN KRISTEN
Menguasai diri berarti mampu menahan dorongan dan keinginan untuk bertindak tidak sesuai dengan kehendak Allah. Sikap ini bukan hanya sekadar sebuah sikap disiplin, tetapi juga tindakan memilih secara sadar dalam rangka menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Allah. Di dalam Galatia 5:22-23, Rasul Paulus menuliskan tentang penguasaan diri sebagai salah satu karakteristik buah Roh. Kata Yunani yang digunakan untuk penguasaan diri dalam ayat ini adalah egkrateia, yang berarti kemampuan untuk mengendalikan diri kita sendiri dengan baik sehingga tidak terbawa emosi atau tindakan yang tidak terkendali. Di dalamnya termasuk mengendalikan akal budi, emosi, perasaan, dan kemauan kita. Willian Barclay, seorang teolog dan penulis Kristen, menjelaskan bahwa penguasaan diri berarti Roh Kuduslah yang mengendalikan semua keinginan dan kegemaran kita akan kesenangan.
Di dalam kehidupan sehari-hari, kata penguasaan dies" digunakan untuk menggan harkan kemampuan seseorang mengendalikan keinginan pribadi demi mengutamakan kepentingan umum. Kemampuan menguasai diri ini membuat seseorang menjadi lebih baik dalam melayani orang lain. Orang yang tidak dapat menguasai diri, bisa menjadi kasar dansult melihat tujuan bersama. Orang yang tidak dapat menguasai diri cenderung me Jalkan hal-hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain, tidak pernah puas dengan pa yang telah dimiliki, dan selalu menginginkan lebih. Oleh karena itu, kemampuan mengua diri sangat penting Tanpa itu, orang akan sulit menunjukkan citra Allah di dalam hidupnya
Rasul Paulus mengatakan bahwa kebebasan yang Kristus berikan adalah kebebasan untuk hidup menurut Roh, bukan mengikuti keinginan hawa nafsu, Salah satu tanda hidup yang dipimpin oleh Roh adalah penguasaan diri. Orang yang memiliki penguasaan diri akan memikirkan dampak tindakannya terhadap orang lain dan tidak membiarkan diri daquasai hawa nafsu, la menempatkan kehendak Allah di atas keinginan pribadi, Semakin baik sese orang menguasai diri, semakin baik pula ta dapat menolak keinginan pribadi. Rasul Paulus juga menggunakan kata egkrateia di 1 Korintus 9:25 untuk menggambarkan disiplin seorang atlet. Hidup ini ibarat sebuah pertandingan di mana kita harus memiliki penguasaan diri untuk meraih kemenangan. Penguasaan diri adalah kunci keberhaallan. Meskipun memiliki kemampuan fisik yang hebat, tanpa penguasaan diri, orang akan sulit meraih kemenangan.
Hidup Tuhan Yesus juga menjadi contoh nyata sikap penguasaan diri. Di padang gurun, Yesus menghadapi godaan berat dari Iblis. Namun, la menunjukkan penguasaan diri yang teguh dengan menolak rayuan kekuasaan duniawi, ketenaran, dan kenyamanan (Mat. 4:1-11). Kemampuan-Nya untuk tetap teguh saat menghadapi godaan menggambarkan penguasaan diri sebagai wujud nyata kehidupan iman Kristen. Selain itu, Yesus secara konsisten menunjukkan penguasaan diri dalam interaksinya dengan orang lain. Saat dihadapkan dengan permusuhan, la merespons dengan kasih dan pengampunan (Mat. 5:38-48). Tindakan-Nya menjadi pedoman bagi orang percaya, menunjukkan bahwa penguasaan diri melibatkan bukan hanya keinginan pribadi, tetapi juga hubungan dan perilaku yang baik kepada sesama.
Aktivitas 2: Eksplorasi Alkitab
Bacalah Amsal 18:13, Efesus 4:29, dan 1 Timotius 6:11. Kemudian, diskusikanlah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!
1. Jelaskan makna penguasaan diri berdasarkan Amsal 18:13, Efesus 4:29, dan 1 Timotius 6:11!
2. Apa yang diajarkan oleh Efesus 4:29 perihal mengendalikan perkataan?
3. Apa dampak dari kurangnya sikap penguasaan diri seperti yang disampaikan Amsal 18:13 dan Efesus 4:29?
4 Bagaimana kita dapat menerapkan prinsip-prinsip penguasaan diri dalam komunikasi sehari-hari berdasarkan Efesus 4:29?
5. Bagaimana kita bisa menghindari godaan untuk terlibat dalam percakapan yang tidak bermanfaat atau merugikan menurut Efesus 4:29 dan 1 Timotius 6:11?
B. B. MANFAAT PENGUASAAN DIRI DALAM RELASI DENGAN SESAMA
Penguasaan diri adalah salah satu kunci penting untuk berelasi dengan
sesama di dalam kehidupan sehari-hari. Pada pembahasan di atas, kamu sudah
mempelajari bahwa pengua-saan diri tidak hanya mencakup pengendalian emosi
dan tindakan, tetapi juga mencerminkan kesadaran akan nilai-nilai iman dan
ajaran Kristiani. Oleh karena itu, praktik menguasai diri akan sangat
berdampak positif pada diri sendiri maupun pada relasi dengan sesama.
Pernahkah kamu menerapkan penguasaan diri? Apakah kamu memperoleh dampak
positif dari sikap itu?
Menerapkan sikap menguasai diri di dalam kehidupan sehari-hari memang
sangat bermanfaat bagi kita maupun bagi sesama. Berikut ini adalah
beberapa dampak positif yang dapat kita rasakan ketika menerapkan sikap
menguasai diri:
1. Menjaga kedamaian hati
Penguasaan diri dapat menolongmu mengelola konflik dengan orang lain.
Saat menguasai diri, kamu akan berusaha bersikap sabar dan mencoba
menyelesaikan konflik dengan damai. Kamu tidak mudah terpancing emosi
untuk berbuat sesuatu yang merugikan diri sendiri atau orang lain.
Misalnya, saat kamu diejek oleh teman sekelasmu, kamu dapat tetap bersikap
tenang, menanggapinya dengan santai dan penuh kasih.
2. Menghormati dan melayani sesama
Penguasaan diri juga memungkinkan kamu menghormati dan melayani sesama
dengan tulus. Kamu menahan diri untuk tidak merendahkan atau me nyakiti
orang lain. Kamu mampu memberikan bantuan dan dukungan dengan penuh kasih.
Misal-nya, saat melihat teman mengalami kesulitan dalam pelajaran, kamu
dapat berinisiatif untuk mengajarinya tanpa perlu mencemooh atau
merendahkannya.
3. Menjadi Teladan yang Baik
Kamu dapat menginspirasi teman-temanmu dan menjadi teladan bagi mereka
melalui sikap mengu asai diri dengan cara setia pada nilai-nilai iman
Kristen, bersikap bijaksana, bertanggung jawab, dan penuh kasih sehingga
mereka mengikuti jejakmu. Misalnya, kamu menguasai diri untuk tidak ikut
ikutan berperilaku buruk, seperti mengonsumsi alkohol atau narkoba,
menyontek, atau membolos sekolah.
4. Menjalin relasi yang sehat
Dengan penguasaan diri, kamu dapat mengelola konflik secara konstruktif,
berkomunikasi dengan jujur dan terbuka, serta memahami dan menghargai
perbedaan antara satu sama lain. Hubunganmu de ngan sesama menjadi sehat.
Misalnya, kamu meng-hindari gosip atau fitnah terhadap teman-temanmu atau
berupaya mencari cara untuk memperbaiki hubungan yang rusak melalui
komunikasi yang terbuka dan penuh kasih.
5. Menghidupi nilai-nilai Kristiani dalam tindakan
Penguasaan diri memungkinkan kamu bertindak menurut nilai-nilai
Kristiani, seperti kasih, keren-dahan hati, kesabaran, dan pengampunan di
dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika kamu mampu mengendalikan
kemarahanmu, sebenarnya kamu sedang menunjukkan kasih dan pengam-punan
kepada orang yang telah menyakitimu. Tin-dakan ini adalah salah satu
bentuk meneladani ajaran Kristus tentang mengasihi musuh.
C. MENERAPKAN PENGUASAAN DIRI DI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Di Amsal 25:28 dinyatakan bahwa orang yang tidak memiliki penguasaan diri
ibarat kota yang tembok perlindungannya roboh. Gambaran Alkitab ini
menekankan pentingnya penguasaan diri. Penguasaan diri menjaga
kesejahteraan rohaniah seseorang. Penguasaan diri melindungi diri dari
ancaman potensial berupa godaan, pengaruh negatif dari lingkungan sekitar,
atau tekanan dari teman-teman untuk melakukan dosa, berperilaku tidak
sejalan dengan nilai-nilai Kristiani, misalnya berbohong, mencuri,
merokok, minum alkohol, merundung, dan terlibat dalam hubungan yang tidak
sehat secara rohani.
Menguasai diri bukanlah usaha pasif, melainkan tindakan aktif membangun
perta-hanan spiritual, yaitu membangun dan memperkuat iman dalam rangka
melindungi diri dan menjauhkan diri dari godaan, pengaruh negatif, dan
tekanan tersebut di atas.
Beberapa contoh langkah nyata membangun pertahanan spiritual yang remaja
Kristen dapat lakukan adalah antara lain:
1. Berdoa dan membaca Alkitab
Sediakanlah waktu setiap hari untuk berdoa dan membaca Alkitab untuk
memperkuat iman dan menumbuhkan ketahanan rohanimu.
2. Bergaul dengan teman yang membangun nilai Kristiani
Carilah teman-teman sebaya yang membagikan nilai-nilai iman Kristen
sehingga dapat membantu membangun lingkungan yang mendukung pertumbuhan
spiritualmu.
3. Menjauhi situasi atau lingkungan yang berpotensi
membahayakan
Jika kamu menyadari bahwa suatu situasi atau lingkungan akan membawamu ke
arah yang salah, kamu harus memutuskan untuk menjauh dan memilih yang
benar.
4. Membangun karakter yang kuat
Berlatihlah menguasai diri, belajarlah mengelola emosi, dan lawanlah
godaan sehingga kamu dapat membangun karakter yang kuat dalam imanmu.
Sumber: buku paket PAK kelas 8, penerbit BPK