Bab 10 Dialog dan Kerja sama Antaragama
Dialog dan kerja sama antaragama
Bahan Alkitab: Matius 28:19-20; Lukas 10:25-37; Galatia 3:28; Kejadian
18:1-8
Capaian Pembelajaran
Memahami model dialog dan kerja sama
antarumat beragama dalam rangka penguatan moderasi beragama
Memahami dialog dan kerja sama
antarumat beragama sebagai kehendak Allah.
A. DIALOG & KERJA SAMA ANTARUMAT BERAGAMA DALAM PEMAHAMAN ALKITAB
Perhatikan lingkungan di sekitarmul Kamu hidup di tengah keragaman agama. Di
Indonesia ada enam agama yang berbeda dalam banyak hal, ditambah dengan
berbagai aliran kepercayaan yang juga mulai diakui keberadaannya oleh negara.
Bagaimana orang Kristen dapat menghidupi imannya di tengah keragaman agama?
Mari mulai dengan mengingat perintah Tuhan Yesus untuk mengasihi sesama
seperti diri sendiri (Matius 22:39). Perintah ini mendorong para pengikut
Kristus untuk menyebarkan kasih ke luar komunitas sendin. termasuk kepada
orang-orang berlatar belakang agama berbeda. Konsep "sesama" yang dimaksud
oleh Tuhan Yesus melebihi kedekatan keluarga, suku, dan agama.
Coba ingat kembali konsep sesama yang Tuhan Yesus sampaikan melalui cerita
"Orang Samaria yang Murah Hati" di Lukas 10:25-37. Dalam perumpamaan ini,
seorang Samaria, yang dianggap sebagai orang luar oleh orang Yahudi,
menunjukkan. kebaikan dan belas kasihan kepada se-orang laki-laki Yahudi yang
terluka. Orang Samaria itu menolong tanpa memandang agama dan budaya orang
yang ia tolong walaupun norma dan nilai masyarakat pada saat itu melarang
orang Yahudi ber-interaksi dengan orang Samaria. Perum-pamaan ini menjadi
contoh nyata tentang kasih yang meruntuhkan batas-batas pemisah, seperti
perbedaan suku, ras, atau agama. Melalui kisah ini. Tuhan Yesus membangun
pemahaman dan persatuan di antara orang-orang yang berlatar belakang
berbeda
Aktivitas 2: Eksplorasi Alkitab
Bacalah Matius 28:19-20, kemudian diskusikan dengan kelompokmu sesuai
pertanyaan pertanyaan di bawah ini!
1. Kepada siapakah perintah Tuhan Yesus di Matius 28:19-20 ini ditujukan?
Apakah umat Allah saat ini juga harus melakukan perintah ini? Jelaskan!
2. Sikap apa yang dapat diambil dari perkataan "jadikanlah semua bangsa
murid-Ku dalam upaya membangun dialog dengan orang yang berbeda?
3. Bagaimana kita dapat menerapkan pesan keterbukaan di Matius 28:19-20 dalam
menghormati keyakinan agama yang beragam?
4. Menurutmu, mungkinkah membangun dialog dan kerja sama antarumat
beragama?
Amanat Agung Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya menekankan pesan keterbu kaan.
Umat Kristen dipanggil untuk berinteraksi dengan orang dari berbagai latar
belakang Ini menunjukkan perlu adanya upaya aktif untuk membangun dialog,
kerja sama, dan berbagi iman. Di dalamnya ada penekanan untuk memahami dan
menghormati pemahaman orang lain yang berbeda. Dengan memenuhi Amanat Agung,
pengikut Kristus ikut ber partisipasi aktif membangun kerja sama dengan orang
dari berbagai agama.
Semangat yang sama juga disuarakan oleh Rasul Paulus di Galatia 3:28: "Dalam
hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang
mer deka, tidak ada laki-laki atau perempuan.
karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus" Ayat ini mengingatkan
bahwa di dalam Kristus ada kesatuan dalam perbe daan. Seharusnya tidak ada
diskriminasi karena berbagai latar belakang yang berbeda.
Sikap menghargai orang berlatar belakang berbeda juga ditunjukkan oleh Abraham
di Kejadian 18:1-8. Ia menyambut orang asing yang datang ke rumahnya dengan
sangat baik. Sikap Abraham ini mendorong kita berinteraksi dengan mereka yang
berbeda dengan kita, menyambut mereka dengan ramah, bukan mengucilkan
mereka.
Bagaimana remaja Kristen dapat mengupayakan dialog dan kerja sama antaragama?
Mulailah dengan mengobrol dengan teman sekelas yang memiliki keyakinan
berbeda. Tanyakan tentang liburan, tradisi, dan nilai-nilai hidup mereka.
Ikutlah menyusun acara sekolah yang merayakan keragaman, yang menampilkan
praktik-praktik agama yang ber-beda melalui presentasi, musik, atau
makanan.
Ingatlah, untuk membangun pemahaman dan kerja sama antarumat beragama dibu
tuhkan keterlibatan aktif. Firman Allah menyatakan pentingnya dialog dan kerja
sama yang melampaui batas agama. Kita dipanggil untuk membangun jembatan
pemahaman dan kerja sama, mengakui bahwa kita semua adalah sesama manusia
ciptaan Allah, dan bekerja sama untuk masa depan yang lebih cerah. Prof. Dr.
Diana Eck, seorang pemerhati dialog antaragama, mengatakan, "Masa depan dunia
bergantung pada kualitas dialog kita melintasi batas perbedaan." Mari menjadi
generasi yang mendorong terjadinya dialog ini, membangun jembatan rasa hormat
dan harmoni di dunia yang sarat keberagaman.
Membangun dialog dan kerja sama antaragama tidak berarti meninggalkan iman
Kristen. Firman Allah juga menekankan pentingnya tetap teguh pada iman kita
sendiri. Di Ulangan 5:9 Allah memperingatkan agar kita tidak menyembah
ilah-ilah, "Jangan sujud menyembahnya atau beribadah kepadanya, sebab Aku,
TUHAN Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalas kesalahan bapa kepada
anak-anaknya sampai kepada ketu-runan ketiga dan keempat dari orang-orang yang
membenci Aku" Ayat ini tidak berarti bahwa kita harus intoleran terhadap agama
lain. Ayat ini mengingatkan kita bahwa kita harus meyakini iman percaya kita
sendiri dan memegangnya teguh.
Dr. Miroslav Volf, seorang teolog yang aktif dalam isu sosial keagamaan,
mengatakan bahwa dialog antaragama bukan hanya tentang proses memahami orang
lain, tetapi jugatentang proses memperkaya inan kita sendiri. la melihatnya
sebagai sebuah proses pem belajaran bersama. Dengan menghormati agama-agama
lain, orang Kristen justru makin kuat dalam imannya.
B. TANTANGAN DALAM MEMBANGUN DIALOG DAN KERJA SAMA ANTARUMAT BERAGAMA
Membangun dialog dan kerja sama antarumat beragama adalah tugas mulia, tetapi
me nantang Pernahkah kamu mengalami kesulitan bergaul dengan orang yang
berbeda agama? Tuliskan pengalamanmu di kotak di bawah inil
Tantangan dalam membangun dialog dan kerja sama antarumat beragama dapat
muncul dalam berbagai bentuk, antara lain:
Asumsi seseorang berdasarkan keyakinan agamanya terhadap orang yang beragama
lain dapat menimbulkan penilaian yang bias sehingga terjadi kesalahpahaman dan
stereotipe. Tantangan ini sering muncul karena kurangnya pengetahuan atau
pemahaman tentang sudut pandang yang beragam tanpa upaya mengecek kebenarannya
secara langsung dari orang bersangkutan. Untuk mengatasi tantangan ini
diperlukan upaya untuk saling men-dengarkan, empati, dan komitmen untuk
belajar tentang orang lain tanpa mengandalkan asumsi. Kesalahpahaman dan
stereotipe kadang membuat remaja takut untuk berdialog dengan penganut agama
lain Diperlukan hati yang terbuka dan kemauan belajar untuk mewujudkan dialog
yang tulus.
2. Perbedaan ajaran
Perbedaan ajarah agama sering kali menghambat diakong terbuka. Ajaran agama
yang satu bisa sangat berbeda dengan ajaran agama yang lainnya sehingga upaya
memahami dan menghormati perbedaan ini tidak mudah. Muncul perasaan defensif
atau penolakan terha dap ide-ide yang bertentangan dengan ajaran agarna yang
dianut. Sifat Tuhan, keselamatan, atau praktik keagamaan dapat menjadi topik
yang sensitif untuk dibicarakan
Untuk mengatasi tantangan ini diperlukan semangat toleransi, mengakui bahwa
kebe raguaman keyakinan merupakan bagian alamiah dari pengalaman manusia, Juga
dibutuhkan keinginan untuk menemukan titik temu dan menghormati hak orang lain
untuk memegang Iryakinan mereka. Perbedaan ini dapat dihadapi dengan membangun
rasa hormat, keren-Jahan hati, dan fokus pada nilai bersama, seperti kasih dan
keadilan sosial.
3. Pengaruh budaya
Budaya memainkan peran penting dalam membentuk praktik dan identitas
keagamaan. Budaya dapat memperkuat perbedaan agama, menyulitkan seseorang
untuk melihat di Juar tradisi mereka sendiri. Terkadang, perbedaan budaya
dapat disalahpahami sebagai identitas keagamaan. Contohnya, adat atau tradisi
tertentu mungkin dipandang sebagai sebuah ajaran keagamaan, padahal sebenarnya
merupakan ekspresi budaya. Untuk meng atasi tantangan ini, kita harus mampu
membedakan antara aspek budaya dan keagamaan, menghargai keberagaman dalam
komunitas iman, dan memiliki pemahaman bahwa keyakinan agama seseorang juga
dipengaruhi faktor budaya.
4. Beban sejarah
Konflik dan prasangka pada masa lalu sering kali turut menyebabkan permusuhan
dan kekerasan antarpemeluk agama. Untuk mengatasi luka sejarah ini diperlukan
upaya aktif untuk mengampuni dan komitmen untuk membangun kepercayaan. Kamu
mungkin ber-temu dengan teman sekelas yang keluarganya menyimpan kenangan
pahit terkait dengan persekusi agama. Dalam situasi tersebut, kamu dapat
mencoba menjadi pendengar yang baik, menunjukkan empati dan rasa hormat
terhadap kisah mereka. Upaya-upaya itu dapat menuju penyembuhan dan membangun
jembatan dialog.
5. Takut kehilangan identitas diri
Kadang ada penganut agama dan kepercayaan yang khawatir kehilangan keyakinan
iman sendiri ketika membangun dialog dengan penganut agama dan kepercayaan
lain. Iman yang sejati seharusnya tidak terancam oleh dialog terbuka dan
pemahaman antaragama. Prof. Dr. Diana Eck mengatakan, "Dialog antarkepercayaan
bukanlah tentang mengaburkan batas,melainkan tentang belaiar hidup secara
kreatif dan saling membangun dengan batas-batas yang ada" Perhatikanlah taman
yang ditumbuhi bunga berwarna-warni. Keberagaman bunga mempercantik taman itu.
Demikian juga dialog dan kerja sama antaragama dan kepercayaan memperindah
hidup kita
6. Tekanan Sosial
Seorang remaja kerap takut dijauhi kalau berani menjelajah di luar kelompok
agama atau kepercayaannya. Ketakutan itu dapat menghambat keingintahuan dan
persahabatan dengan orang yang berbeda agama atau kepercayaan dengannya.
Misalnya, Geri ragu untuk meng undang Mariam ke gereja karena tidak yakin
dengan reaksi teman-temannya, sementara Mariam mungkin menghindar membahas
imannya dengan kelompok yang berbeda iman dengannya agar tidak dijauhi Untuk
mengatasi kendala-kendala sosial ini diperlukan keberanian dan pikiran terbuka
untuk mendapatkan dukungan dari teman sebaya yang sejalan dan menghargai
persahabatan yang tulus.
Dialog dan kerja sama antaragama memerlukan empati dan kerendahan hati. Kedua
nilai ini dapat dibangun dalam masyarakat yang berbeda agama. Sebagai remaja
Kristen, kamu dapat meneladani cinta dan belas kasih Tuhan Yesus dalam rangka
berkontribusi menghadirkan darnai sejahtera Allah di tengah komunitas yang
beragam, Kamu juga dapat menjadikan firman Allah sebagai pedoman dalam
berelasi dengan orang yang berlatar belakang berbeda.
Berikut ini beberapa kiat yang dapat kamu praktikkan agar mampu membangun
dialog dan kerja sama antarumat beragama yang berbeda:
Menjadi pendengar yang baik: belajarlah menyimak penuturan orang lain secara
saksama, tanpa menyela atau menghakimi.
Memiliki empati: berusahalah memahami dari sudut pandang orang lain.
Menghormati: perlakukan orang lain dengan hormat meskipun kamu tidak setuju
dengan keyakinan mereka.
Titik temu bersama: fokuslah pada nilai bersama dan tujuan yang sama, seperti
per-damaian, keadilan, dan kasih sayang.
C. REMAJA KRISTEN MEMBANGUN DIALOG DAN KERJA SAMA ANTARAGAMA
Hans Küng, seorang teolog Kristen, berpendapat bahwa berdialog dengan orang
dari agama yang berbeda memungkinkan terjadinya saling memahami, menghilangkan
pra-sangka, dan membangun budaya perdamaian. Kamu pasti akan berjumpa dengan
orang yang memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Perjumpaan itu akan
menjadi kesempatanmu untuk menerapkan prinsip-prinsip Hans Küng di atas.
Bangunlah dialog yang saling menghormati dan menghargai sambil berusaha
memahami keyakinan orang lain. Hindari memaksakan keyakinan sendiri.
Dialog dan kerja sama antaragama dan kepercayaan dapat berkontribusi dalam
upaya menghilangkan stereotipe dan memupuk persatuan di Indonesia yang
memiliki kebera-gaman agama dan kepercayaan. Berikut ini adalah beberapa cara
untuk melakukannya:
1. Kelompok remaja lintas agama
Berpartisipasi dalam diskusi-diskusi terbuka yang diadakan oleh kelompok anak
muda lintas agama. Di situ para peserta lainnya dapat belajar tentang tradisi
agama yang berbeda Kelompok-kelompok yang menjadi wadah untuk berdialog dan
bekerja sama ini mendo. rong pemahaman di antara anggota komunitas yang
beragam.
2. Proyek pelayanan masyarakat
Remaja dapat berkolaborasi dalam proyek-proyek pelayanan masyarakat yang
melibatkan orang-orang dari berbagai latar belakang agama, misalnya menjadi
sukarelawan korban bencana, bekerja sama di dapur umum. Dengan bekerja sama
mencapai tujuan bersama, kamu mengalami dampak positif dialog dan kerja sama
dalam perbedaan.
3. Proyek sekolah
Kamu dapat berkolaborasi dengan teman sekelas yang memiliki keyakinan agama
berbeda untuk mengadakan proyek yang mengeksplorasi berbagai tradisi
keagamaan. Adakan pameran, pentas seni, atau diskusi buku tentang berbagai
tradisi iman yang berbeda.
4. Acara komunitas
Ikut serta dalam festival antariman, acara makan bersama, atau proyek
pelayanan untuk membangun pengertian dan persahabatan. Misalnya, sebagai
remaja Kristen, kamu dapat juga berpartisipasi dalam kegiatan berbuka bersama
teman yang sedang menjalankan ibadah puasa.
5. Percakapan terbuka
Jangan ragu untuk melakukan percakapan yang disertai sikap hormat dan terbuka
dengan teman dan anggota keluarga mengenai keyakinan dan praktik keagamaan
mereka. Kegiatan ini akan menolongmu untuk belajar tentang mereka dan
sebaliknya.
6. Media sosial
Gunakan wadah media sosial untuk berbagi pesan positif tentang pemahaman dan
kerja sama antariman. Kamu juga dapat mulai mengampanyekan dialog dan kerja
sama antar-umat beragama untuk menginspirasi munculnya sikap saling menghargai
dan menghormati dalam perbedaan agama.
Tuhan Yesus mengajarkan bahwa sesama bukan hanya orang-orang yang duduk di
sekitarmu di gereja, tetapi juga orang lain yang bahkan berbeda agama. Mari
belajar mem-bangun dialog dengan mereka. Hans Küng mengingatkan bahwa "dialog
yang sejati hanya dapat terjadi antara mereka yang setara, yang menghormati
identitas masing-masing dan bersedia belajar satu sama lain."
Untuk belajar satu sama lain, kamu perlu melangkah keluar dari zona nyamanmu.
Pada bulan Ramadan, misalnya, daripada hanya mengamati temanmu berpuasa, kamu
dapat bertanya tentang makna bulan tersebut bagi umat Islam, belajar tentang
perayaan Idul Fitri sambil berbagi informasi tentang hari raya umat Kristen
seperti Natal atau Paskah. Dialog yang berakar pada rasa ingin tahu dan rasa
hormat niscaya akan menciptakan jem-batan saling memahami.
Sama seperti Tuhan Yesus yang menghadapi tantangan ketika membagikan pesan
kasih kepada mereka yang berbeda, kita juga harus berani membangun jembatan
pema-haman berupa dialog dan kerja sama. Ingatlah, setiap percakapan,
kolaborasi, atau interaksi kecil sekalipun merupakan riak perubahan dalam
kolam kehidupan antaragama yang lebih besar. Riak-riak kecil yang terus
terjadi dan bertemu akan menciptakan gelombang kerja sama dan rasa hormat di
tempat kita berada.
Mari kita bangun jembatan pemahaman, bukan tembok pemisah. Mari hidupkan pesan
kasih dan persatuan yang melampaui batas keagamaan agar dunia menjadi lebih
harmonis dalam perbedaan. Ingatlah, Tuhan Yesus tidak datang untuk menciptakan
umat yang menutup diri dari dunia luar, tetapi untuk mengumpulkan semua orang
dalam pelukan kasih Allah. Sekarang, giliranmu untuk memperluas pelukan itu
dan membangun dunia di mana dialog antarumat beragama bukan sebatas sebuah
konsep, melainkan diwujudkan di dalam kehidupan bersama sehari-hari.
RANGKUMAN
Menghidupi iman Kristen di tengah keragaman agama dapat dimulai dengan
mengingat perintah Tuhan Yesus di Matius 22:39: "Kasihilah sesamamu manusia
seperti dirimu sendiri." Perintah tersebut merupakan seruan agar kita tidak
membeda-bedakan sesama.
Namun, kita sering kali menemui tantangan saat hendak membangun dialog antar umat beragama. Tantangan tersebut bisa berupa kesalahpahaman dan stereotipe, perbedaan ajaran, pengaruh budaya, beban sejarah, rasa takut kehilangan identitas diri, atau tekanan sosial. Tantarigan-tantangan tersebut dapat diatasi dengan membangun sikap empati dan kerendahan hati berlandaskan cinta dan belas kasih yang diteladankan oleh Tuhan Yesus.
Upaya membangun dialog dan kerja sama dapat dimulai dari hal-hal sederhana di dalam kehidupan sehari-hari, seperti memulai persahabatan dengan teman yang berbeda agama. Upaya itu juga dapat dilakukan dengan cara bergabung dalam kelompok remaja lintas agama, berkolaborasi dalam proyek pelayanan masyarakat, mengadakan proyek sekolah yang mengeksplorasi berbagai tradisi keagamaan, mengikuti acara komunitas seperti festival antariman, mengadakan percakapan terbuka, dan menggunakan media sosial untuk mempromosikan dialog dan kerja sama antaragama.
Sumber: buku paket PAK kelas 8, penerbit BPK
Tidak ada komentar:
Posting Komentar